IKUTI SUARA HATI
IKUTI SUARA HATI
Aceng, begitu panggilan akrabnya. Beliau adalah ketua BPD (
Badan Permusyawaratan Desa ) Kampung Melayu Timur Kecamatan Teluknaga.
Akhir-akhir ini Nampak begitu lusuh. Pengawakannya yang tinggi besar tak dapat
menyembunyikan kegalauan di wajahnya.
Sambil menyeruput kopi panas dan sebatang rokok herbal di tangannya
dia bertutur, “waduh pusing nih pala”. Sontak kami menorah ke arahnya yang
sedari tadi sedang asyik ngobrol sembari lihatin tukang cat yang sedang
semangatnya mengecat pagar di sepanjang jalan pinggir komplek perumahan pasca
penertiban PKL di bahu jalan tersebut.
“ngapa ketua?” tanya Bang Udin yang menjadi wakilnya di BPD .”
Pagimana kaga pusing Din, coba luh bayangin seandainya jadi Guwa, masa orang-orang
pada bilang kalau penertiban PKL yang kemaren Gua dalangnya.” Jawab Aceng dengan nada agak kesal. “Bukan
Cuma itu doing Din, orang-orang juga pada nyinyir, kagak ada kerjaan, lah
tembok pake di cat segala, jalanan pake dipagerin, dasar orang kagak ada
kerjaan. Masa orang-orang pada ngomong
begitu Din sama Gua. “ Yah udahlah ga
usah dengerin omongan orang”. Biasa orang mah ada saja yang diomongin.
Jangankan jeleknya, bagusnya juga masih diomongin sela Ipul yang sedari tadi
asyik makan roti bakar.
“Pagimana menurut Pak Guru?”
Tanya Aceng padaku. Lantas Kukatakan padanya jangan terlalu mendengar omongan
orang ketua. Kalau apa yang yang kita kerjakan itu baik, lanjutkan. Memang
dimana jeleknya kalau kita menghias kampong menjadi kampung pelangi. Bukankah
itu indah. Bukankah keindahan itu membuat orang lain bahagia. Kalau kita selalu
mendengar apa kata orang maka atak akan habisnya. Pusing kita dibuatnya ketua.
Jawabku dengan panjang kali lebar.
Ketua, mohon maaf nih yah bukan bermaksud mau ngajarain.
(Kuceritakanlah kisah tentang seorang anak, bapak, dan keledai. Begini
ceritanya :
Pasa suatu masa, dikisahkan, ada
dua orang anak dan bapknya yang ingin
pergi ke suatu pasar untuk menjual seekor keledai. Bapak anak itu berusia
lanjut, tetapi masih cukup kuat untuk berjalan. Sedangkan Si Anak sendiri
adalah remaja yang belum dapat di sebut dewasa, tetapi juga bukan lagi
dikatakan anak-anak. Sementara si keledai, adalah keledai yang sehat kuat
tetapi badannya beukuran agak kecil.
Suatu pagi , berangkatlah mereka
menuju pasar yang letaknya agak jauh dan harus ditempuh dalam perjalanan
setengah hari. Bapak dan Anak, dengan membawa bekal secukupnya segera naik ke punggung keledai. Mereka
menaiki keledai itu selama beberapa jam, hingga akhirnya tiba di sebuah kampung
dengan kerumunan orang. Melihat seekor keledai yang kecil dinaiki oleh Bapak
dan Anak itu, merekapun berbisik.“Hai, betapa malangnya nasib
keledai kecil itu. Kata salah satu diantara mereka. Keledai itu harus
menanggung beban dua orang seperti kalian. Tidakkah kalian berpikir bahwa
keledai itu bisa menderita?”
Setelah mendengar perkataan orang
tersebut, akhirnya Si Bapak turun dari punggung keledai, kemudian meneruskan
perjalanan menuju pasar dengan Si Bapak berjalan di samping keledai, sedang Si
Anak menunggangi keledai tersebut. Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan yang
sepi hingga kemudian tibalah di sebuah kampung yang berbeda.
Di kampung ini, mereka juga
berpapasan dengan sekelompok orang, lagi-lagi
mereka berbisik, lalu salah seorang dari mereka berkata : “Hai Anak
Muda, lihatlah Bapakmu yang berjalan di sisi keledai itu. Tidaklah sopan kamu
duduk di atas punggung keledai, sementara Bapakmu berjalan kaki di sampingmu.
Apa Kamu nggak punya otak sehingga engkau tega sama Bapakmu?
Si Anak lantas berpikir dan menyadari bahwa Bapaknyalah yang lebih pantas duduk
di atas keledai. Dialah yang seharusnya berjalan kaki. Anak tersebut
kemudian turun dari punggung keledai, dan ia meminta Bapaknya naik. Mereka
kemudian melanjutkan perjalanan menuju pasar. Sementara Si Anak berjalan di
samping keledai.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di sebuah kampung yang lainnya. Dan
lagi-lagi merekapun bertemu dengan sekelompok orang. Mereka saling
berbisik-bisik sambil memandangi kepada Bapak dan Anak, serta keledai itu.
Salah seorang dari penduduk kampung itu berkata.
“Dasar kamu ayah keterlaluan.” Masa anakmu yang belum dewasa dibiarkan
berjalan sambil menuntun keledai, sementara Kau dengan santainya berada di atas
keledai.
Merasa
tidak enak hati Si Bapakpun turun dari keledai dan berjalan bersama anaknya
menuntun keledai tersebut. Lagi-lagi bertemu dengan orang-orang dan mengatakan
dasar orang bodoh masa punya keledai enggak dinaiki. Begitu ceritanya ketua
sambil mengakhiri cerita tentang keledai tersebut.
Jadi
intinya meskipun kita mempunyai tujuan yang baik dalam melakukan sesuatu, tetap
saja ada orang yang menggunjing dan melihat hal-hal negatif lainnya. Oleh
karena itu kuatkan tekad dan ikutilah suara hati, karena suara hati adalah
suara kebenaran. Maka tatkala kita mengikuti suara hati maka disitu akan
tercipta kebahgaiaan.
Suganda
Indrawijaya
10th
Day ChallengeReliKabTang

Komentar
Posting Komentar