PERJALANANKU DI PARTAI DA’WAH


 

PERJALANANKU DI PARTAI DA’WAH

Masa remaja kata orang adalah masa dimana seseorang mencari jati diri. Ternyata ini terjadi pada diriku. Betapa saat itu kuraskan aneka warna kehidupan, gelap dan terang kuraskan. Terkadang kebimbangan, kegelisahan, ketakuan, dan harapan bercampur dalam jiwa. Dulu aku adalah orang yang pendiam mungkin disebabkan karena merasa kurang percaya diri.

Ketika duduk dibangku kelas 2 SMA temen sekelas mengajakku untuk ikut aktif dalam kegiatan ekskul yang ada di sekolah kami. Akupun masuk INKAI dan disana aku mulai percaya diri. Anwar temanku di INKAI juga mengajak untuik masuk ROHIS. Melalui rohis ini aku curhat kepada Pembina Rohis Bapak Entis Sutisna yang kebetulan saat itu beliau menjadi wali kelasku. Ku katakana padanya “Pak bagimana yah caranya supaya percaya diri? “. Beliau mengatakan :  “banyaklah baca buku.Karena dengan banyak baca kamu akan banyak mendapakant kosa kata sehingga kamu dapat berkoumunikasi dengan orang lain dengan percaya diri.” Semenjak saat itulah aku mulai gemar membaca, aku berusaha membaca baik dari buku yang aku beli sendiri dengan cara menabung, pinjam ke perpustakaan bahkan Koran dan  majalah bekaspun kubaca.

Ikut ROHIS adalah tonggak sejarah perubahan diri yang aku rasakan. Yah disana aku termotivasi untuk lebih memahmi Islam secara mendalam. Ustadz yang sering mengisi acara ROHIS adalah Ka Asep Mulyawan. Beatapa aku kagum kepada beliau, selain ganteng beliau jago matematika, dan yang terpenting hafalan Qur’annya bagus yang saat itu kurasakan. Pada suatu ketika kami mengadakan iftor jama’i dilanjut dengan sholat taraweh. Inilah sholat taraweh pertama yang kurasakan begitu menyejukan hati di imami oleh Ka Asep Mulyawan dengan bacaan yang lumayan panjang. Karena selama itu sholat tarweh di kampungku  bacaannya pendek dan singkat.

Tak terasa 3 tahun berlalu tepatnya tahun 1995 , akupun lulus dari SMA. Ingin sekali dapat meneruskan kuliah seperti kawan-kawan yang lain, namun apadaya oaringtuaku bukanlah orang kaya yang dapat membiaya kuliahku. Akhirnya kuputuskan untuk bekerja. Ku coba memasuki dari pintu ke pintu perusahaan sambil membawa map berisi berkas lamaran kerja untuk sebuah kerja yang didambakan dan akhirnya diterimalah aku di sebuah perusahaan tekstil di Kota Tangerang. Betapa senangnya aku dan kedua orangtuaku mendengar kabar berita itu. Akupun bertekad bahwa aku harus bias kuliah.

Setelah kehilangan kontak dengan teman-teman sholehku waktu aktif di ROHIS, aku kembali pada komunitasku di kampUng. Seperti remaja pada umumnya, setiap malam nongkrong di jalan sampai larut malam. Cita-cita ingin kuliahpun terlupakan. Sampai pada akhirnya rekan kerjaku merngajak kuliah di Universitas Terbuka setelah 3 tahun bekerja tepatnya tahun 1998.

Namun selama kuliah ditempat tersebut nilai yang kudapatkan tidak bagus karena harus belajar sendiri lewat modul tambah lagi kebiasaan nongkrong yang belum bisa kutinggalkan, hingga bersentuhan dengan dunia hitam. (mohon maaf tidak Saya ceritakan karena menyangkut aib). Intinya kehidupanku jauh dari Tuhan yang telah memberi kehidupan bagi mahluk. Betapa dunia gelap kurasakan pada saat itu. Ditambah lagi ditinggal kawin sama pacarnya yang masih tetangga kampong. Hati terasa remuk redam, malu tentu kurasakan. Pokonya saat itu kurasakan kehidupanku yang sehancur-hancurnya. Pada malam resepsi pernikah pacarku aku tidak sanggup pulang ke rumah. Aku tidur di sebuah masjid dan di sanalah aku mohon petunjuk dariNya, mohon diberikan calon pendamping hidup yang lebih baik.

Hingga pada akhirnya awal tahun 2020 rekan kerjaku Solihin mengajak ngaji. Aku sempet curiga jangan-jangan pengajian yang sama yang pernah aku ikuti beberapa tahun yang lalu yang mewajibkan jamaahnya membayar infak dengan kadar yang sudah ditetapkan, di bawa ke suatu tempat dengan mata tertutup dan dibaiat. Namun beliau meyakinku bukan pengajian seperti itu. Akhirnya aku mengikuti ajakan  temanku itu dan kagetnya ternyata ustadnya adalah Ustadz Asep Mulyawan yang pernah mengisi Rohis waktu aku SMA dulu. Beliau menajdi murobbi ku yang pertama.

Darinya kami dimotivasi untuk lebih mendalam menjalankan agama. Dan memotivasi kami untuk berda’wah dengan bekal yang ada. Setahun kami jalani bersama beliau dalam komunitas melingkar ku beranikan diri untuk dicarikan pasangan hidup. Setahun kemudian barulah kudapatkan calon pendamping hidup yang merupakan binaan istri beliau.

Tahun 2003 melangsungkan pernikahan, dan pada tahun itupula kuputuskan kembali kuliah yang sempat terputus. Namun kali ini aku mengambil jurusan da’wah di sebuah ma;had di Tangerang sebagai bekal beragama untuk diri sendiri dan juga sebagai bekal da’wah.  Lulus dari da’wah yang Cuma dua tahun belumlah cukup untuk bekal da’wah. Akhirnya  ku teruskan mengambil S1 Tarbiyah. Maka dengan persaan bangga dan gembira tahun 2008 aku diwisuda. Tahun 2009 kuputuskan berhenti kerja dari perusahaan tekstil untuk fokus sebagai pengajar di SMK swasta sampai sekarang. Karena mengajar adalah bagian dari da’wah. Dan dari mengajar inilah kuraskan keberkahan hidup. Pokonya hidupku lebih baik ketimbang masih kerja di perusahaan.

21 tahun sudah kami bergabung bersama partai dakwah. Begitu banyak perubahan diri yang kurasakan. Alangkah bersyukurnya hambanya diprtemukan dengan orang-orang sholeh yang  selalu ingin menambah kualitas diri. Di dalamnya terdapat komunitas  relawan digital dan melalui komunitas inilah kami didorong untuk menjadi seorang penulis. Bergabung dengan PKS membuat hidup lebih bermakna . Kini Aku diberi amanah sebagai salah satu pengurus DPC PKS . Semoga kami dapat mengemban amanah dengan baik dan semoga istiqomah.

 

Suganda Indrawijaya

ChallangeReliKabTang

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PALESTINA KEMBALI BERDUKA

GURUKU INSPIRASIKU

IKUTI SUARA HATI