TAKE AND GIVE

 

TAKE AND GIVE

Oleh : Suganda Indrawijaya

Berita perceraian artis marak mewarnai pemberitaan di televisi. Ada yang sekian tahun perkawinannya, ada juga yang seumur jagung. Lantas orang bertanya mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal secara finansial mereka lebih dari cukup. Kalau alasannya merasa ada ketidak cocokan diantara keduanya, bukankah mereka berpacaran sebelumnya bahkan ada yang sekian lama pacarannya baru melangsungkan pernikahan. Bukankah alasan mereka berpacaran   adalah untuk menyatukan atau menyamakan dua hati yang berbeda? Lalu mengapa di tengah perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga karam, bahkan mesinnyapun baru dinyalakan.

Saya teringat kepada kawan lama ketika Saya bekerja  di sebuah perusahaan tekstil. Dia adalah senior saya jabatannya Assisten Foremen. Kawanku itu sering bercerita tentang kisah pacaran mereka yang sudah lebih dari tiga tahun pacaran namun akhirnya sampai ke pelaminan. Suatu pertanyaan pernah kulontarkan kepadanya, apa sih tujuan kalian berpacaran, Jawabannya kalau tidak pacaran bagaimana kita tahu tentang watak dan sikapnya. Kalau kita tidak tahu watak dan sifatnya bagaiamana nanti ketika mengarungi rumah tangga. Begitu jawabnya. Aku hanya bilang “oooh.”

Setelah setahun pernikahnnya kawanku itu mengundurkan diri dari perusahaan. Usut punya usut ternyata dia malu karena pernikahannya gagal. Dalam hatiku berkata “ lha bukankah dulu dia bilang pacaran adalah untuk mengetahui karakter masing-Masing sehingga memudahkan dalam mengarungi rumah tangga. Ternyata tak terbukti.

Beda lagi dengan cerita guru ngajiku. Beliau sudah sekian lama mengarungi rumah tangga bahkan sudah mempunyai anak 4 orang. Pernikahannya tanpa melalui proses pacaran. Mereka dipertemukan oleh Allah melalui orang-orang yang dipercayanya. Saling bertukar data kemudian sholat istikhoroh memohon petunjuk dari Allah yang Maha Kuasa. Ketika hati sudah yakin barulah memberanikan diri untuk berkhitbah dan berlanjut pada pernikahan. Media menyebutnya dengan istilah ta’aruf.    

Belajar dari cerita di atas bahwa yang membuat kelanggengan rumah tangga adalah bukan karena lamanya berpacaran. Itu sangat tidak menjamin karena bias jadi ketika berpacaran ada hal-hal yang disembunyikan untuk menutupi kelemahan, kekurangan, atau kebrukan  diri masing-masing. Yang di tampilkannya adalah berbagai kebaikan supaya menyenagkan pasangannya, dan tidak diputus cinta oleh pasangannya. Barulah ketika berumah tangga sedikit demi sedikit nampak keburukannya yang membuat kecewa satu sama lainnya.

Menurut hemat penulis yang dapat membuat kelanggengan rumah tangga yang bahagia sakinah, mawaddah, warohmah adalah diawali dengan  niat yang baik yakni untuk menyempurnakan setengah dari agama. Memang terkadang dalam mengarungi bahtera rumah tangga ada kerikil-kerikil yang menjadi rintangan untuk menuju dermaga. Namun ketika kita kembalikan pada niat di awal jangankan kerikil Karangpun diterjang, jangankan riuk ombak, badaipun dapat dilewtinya.

Hal lain selain niat karena Allah,  yang terpenting adalah “Take and Give”. Saling memberi dan menerima. Memberikan kelebihan kita kepada pasangan kita, dan menerima kekurangan pasangan kita.  Saling menegur atau memperbaiki dari segala kekurangan yang kita lihat dari pasangan masing-masing dengan bahasa yang baik. Selain itu juga kunci kebahagian hidup dalam rumah tangga atau dalam segala hal adalah sabar dan syukur. Bersabar atas segala kekurangan, kelemahan, juga keburukan dan bersyukur atas segala kelebihan yang kita miliki. Yakinlah bahwa kenikmata yang kita rasakan adalah dari Allah Subhanahu Wata’ala yang ketika kita syukuri maka Allah akan menambahkan nikamat-NYA .



catatan harian :

8th Day ChallngeReliKabTang


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PALESTINA KEMBALI BERDUKA

GURUKU INSPIRASIKU

IKUTI SUARA HATI