AWAL HIJRAH BERSAMA KADER PKS
Awal
reformasi tepatnya tahun 1998 adalah awal masa kebebasan demokrasi setelah
selama 32 tahun terbelenggu oleh kebijakan orde baru. Berbagai organisasi
bermunculan dari yang sifatnya keagamaan yang lurus sampai yang menyimpangpun
berani unjuk gigi, bahkan organisasi yang bertentangan dengan ideologi
negarapun mulai muncul. Singkat cerita masyarakat Indonesia pada saat itu
sedang menikmati euforianya.
Sejumlah
politikuspun bermunculan dan berlomba-lomba mendirikan partai politik yang pada
masa orde baru cuma 3 parpol yakni PPP ( Partai Persatuan Pembangunan ) berdiri
tahun 1973 yang terbentuk dari partai-partai Islam seperti NU dan Parmusi, GOLKAR (Golongan Karya) yang berdiri sejak
tahun 1964 dan kebanyakan pendukungnya adalah para anggota KORPRI ditambah
masyarakat pada umumnya termasuk sebagian ulama di dalamya, dan yang ketiga
adalah PDI ( Partai Demokrasi Indonesia ) yang berbasis masa para pengagum
Presiden pertama RI yakni Ir. Soekarno dan juga hasil fusi dari beberapa partai
yakni MURBA, PNI, Partai Katolik, Parkindo , dan IPKI)
Pemilu
pertama di era reformasi dilaksanakan pada tahun 1999 dengan diikuti oleh 48
partai politik. Partai Keadilan adalah salah satu peserta pemilu pada saat itu.
PK yang banyak didukung oleh kaum muda Islam yang reformis, telah membuat hati
terpincut. Banyak informasi positif kudapat dari majalah. terutama majalah Sabili yang sering kubaca saat itu.
Ingin rasanya bergabung dengan PK. Namun karena tidak ada yang mengajak dan
akupun masih malu untuk bergabung dengan orang-orang yang kelihatannya sholeh
sementara siapalah diriku pada saat itu adalah seorang pemuda yang jauh dari
ajaran agama Islam yang benar namun semangat membela Islam sudah ada dalam dada
pada saat itu. Maka sebagai aspirasi ideology aku pilih partai Islam yang sudah
lama kukenal yaitu PPP.
Pada
awal tahun 2000 seorang teman mengajak ngaji di Kota Tangerang. Tanpa piker
panjang aku mengiyakan ajakannya karena memang ghiroh beragama pada saat itu
sangat tinggi. Aku tertarik dengan sitem dan materinya. Kami duduk melingkar,
sementara guru menyampaikan materi yang pernah aku sukai waktu duduk di SMA
ketika aktif di rohis. Karena jumlah pesertanya tidak terlalu banyak, jadi kami
khusyu mendengarkan penjelasan sang Ustadz, materinya mengena membuat .
ghirohku semakin kuat dalam jiwa ini.
Mungkin
inilah hidayah yang Allah berikan melalui komunitas melingkar yang kala itu
disebutnya jamaah tarbiyah yang notabene adalah para aktifis PKS. Saat itu aku
masih lugu , pernah kutanyakan pada tuan guru ( Murobbi ) bagaimana caranya
agar bisa masuk ke PKS. Beliau menjawab “ yah harus jadi anggota”.
Ku
beranikan diri untuk mendaftar jadi anggota PKS yang ada diwilayahku di
Kecamatan Teluknaga. Kusambangilah kantor DPC nya yang terletak di Perumahan
Komplek Garuda. Betapa kagumnya aku
karena rata-rata pengurus DPC baik-baik dan sholeh serta terpelajar. Segera Ku
isi Formulir yang disodorkannya padaku.
Waktu
cepat berlalu. Bagaimanapun caranya kusempatkan diri untuk hadir dipengajian
komunitas melingkar (liqo) walau lelah sepulang kerja tak membuat semangatku
kendor. Dari sinilah perubahan terhadap diri perlahan mulai ada perubahan.
Sebagain temanku ada yang mengatakan aku pastur karena aku tidak malu-malu
membawa mushab ditempelkan didada layaknya seorang pastur membawa kitabnya ke
gereja. Ada juga yang mencibir sok alim karena aku mulai meninggalkan kebiasaan
lama yakni nongkrong dijalan sambil menghisab sebatang rokok kadang menggoda
para gadis yang melintasi jalan tempat kami nongkrong. Ada juga yang memanggil
Ustadz. Ku aminkan dalam hati.
Sebelum
sempat menjadi kader Teluknaga aku keburu menikah tepatnya tahun 2003 dan
menetap di Pondok Mertua Indah sampai tahun 2005. Besamaan dengan itu karena
sering dimotivasi oleh Murobbi untuk menambah kompetensi diri di dorong oleh
semangat kegamaan yang tinggi pula maka pada tahun yang sama aku memutuskan
kuliah mengambil jurusan Dakwah di STAI Asy-syukriyah Cipondoh karena selain
biayanya terjangkau juga deket jaraknya dengan rumah mertua.
Selesai
sudah D2 Dakwah, namun ku rasa aku belum bisa apa-apa, jangankan ceramah di
depan umum untuk diri sendiripun aku belum punya bekal, maka aku lanjutkan
kuliah mengambil S1 Tarbiyah , karena untuk jurusan dakwah tidak ada. Dengan
izin Allah dan dorongan keluarga terutama istri tercinta sampailah pada saat
yang berbahagia yakni wisuda S1 tahun 2008 . Dengan rasa syukur kupanjatkan
padamu Ya Robb yang telah mengantarku ke depan pintu gerbang keimanan .
Semenjak itulah aku berusaha agar selalu eksis dan bersama PKS. Karena dengan
wasilah PKS inilah terjadinya reformasi dalam diri. Walau sebagian teman-teman
berguguran karena tak tahan dengan terpaan angin kekecewaan dan beberapa fitnah
yang melanda PKS dan beberapa kader PKS namun PKS tetap di hati ini, karena kuyakin
orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang istiqomah di
jalan-Nya.
Suganda
Indrawijaya
Day3rd
RamadhanChallangeReliKabTang

Komentar
Posting Komentar