KUTAB
KUTAB
A. Pengertian Kutab
Kuttab
atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat
menulis. Jadi katab adalah tempat belajar menulis. Sebelum datangnya Islam
Kuttab telah ada di negeri Arab, walaupun belum banyak dikenal. Di antara
penduduk Makkah yang mula-mula belajar menulis huruf Arab ialah Sufyan Ibnu
Umaiyah Ibnu Abdu Syams, dan Abu Qais Ibnu Abdi Manaf Zuhroh Ibnu Kilat.
Keduanya mempelajarinya di negeri Hirah. Karena baca tulis semakin dirasa
perlu, maka kuttab sebagai tempat belajar menulis dan membaca, terutama bagi
anak-anak, berkembang dengan pesat. Pada mulanya, di awal perkembangan Islam,
kuttab tersebut dilaksanakan di rumah guru-guru yang bersangkutan, dan yang
diajarkan adalah semata-mata menulis dan membaca. Sedangkan yang ditulis/dibaca
adalah syair-syair yang terkenal pada masanya.
Dalam
Ensiklopedia Islam dijelaskan bahwa: kuttab adalah sejenis tempat belajar yang
mula-mula lahir di dunia Islam. Pada awalnya kuttab berfungsi sebagai tempat
memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak.
Jadi
Kuttab adalah lembaga pendidikan Islam untuk usia dini yang muncul pertama kali
di zaman Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Kemudian menyebar ke
berbagai negara seiring dengan penyebaran Islam.
B. Sejarah Singkat Kutab
Pada
saat datangnya Islam hanya ada 17 orang Quraisy yang mengenal tulis-baca. Di
tengah permusuhan suku Quraisy, tidak banyak yang dapat dilakukan oleh Rasul
SAW bersama pengikutnya yang hanya sedikit. Ketika akhirnya mereka hijrah ke
Madinah (622 M.) beberapa orang dari suku Aws dan Khazraj (dua suku utama
Madinah) dapat menulis dan membaca.
Masalah
baca tulis ini menjadi salah satu perhatian khusus Rasulallah SAW, karena sangat diperlukan untuk mancatat
wahyu yang diturnkan oleh Allah kepada Rasulallah. Hal ini dapat kita lihat
dengan peristiwa pembebasan beberapa tawanan Perang Badr setelah mereka mengajarkan tulis-baca kepada
sekelom¬pok Muslim.
Pada
mulanya, pendidikan kuttab berlangsung di rumah-rumah para guru (mu’allim,
mu’addib) atau di pekarangan sekitar masjid. Materi yang digunakan dalam
pelajaran tulis-baca ini pada umumnya adalah puisi dan pepatah-pepatah Arab
yang mengandung nilai-niiai tradisi yang baik. (Penggunaan Al-Quran sebagai
teks dalam kuttab baru terjadi kemudian, ketika jumlah Muslim yang menguasai
Al-Quran telah banyak, dan terutama setelah kegiatan kodifikasi pada masa
kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan). Kebanyakan guru kuttab masa awal Islam adalah
nonmuslim, sebab Muslim yang dapat membaca dan menulis yang jumlahnya masih
sangat sedikit sibuk dengan pencatatan wahyu Al-Quran.
Di
antara penduduk Mekah yang pertama-tama menulis membaca huruf Arab adalah Abu
Qais Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab dan Sufyan bin Umayyah bin Abdul Syams.
Keduanya belajar dari guru Bisyr bin Abdul Malik yang mempelajarinya di negara
Hirah. Di tengah pertentangan dengan Qabilah Quraisy, tidak banyak yang bisa
dilakukan oleh Rasulullah saw bersama pengikut-pengikutnya yang hanya berjumlah
sedikit. Pada akhirnya umat Islam hijrah
ke Madinah (622 M.) dan sejumlah orang dari suku Aws dan Khazrajyang dulunya
saling bermusuhan kini sudah bisa baca
dan tulis. Kedudukan kuttab di abad pertama hijriyah ini merupakan pintu gerbang menuju pengajaran
yang lebih tinggi.
Kemampuan
membaca dan menulis yang merupakan pembelajaran inti dalam lembaga pendidikan
kuttab, menjadi semakin urgen selaras dengan perkembangan agama dan umat Islam
di Madinah selian untuk pencatatan wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad
saw juga diperlukan untuk memungkinkan
berjalannya komunikasi antara kaum muslimin dengan suku-suku dari bangsa lain.
Hasil dari keterampilan membaca dan
menulis ini bisa dilihat dalam peristiwa
pembebasan tawanan-tawanan Perang Badr (2/624). Rasulullah saw memberi
keputusan terhadap tawanan perang Badar agar mereka menebus dengan harta, akan
tetapi para tawanan tidak memilikinya, maka selanjutnya mereka diperintah untuk
mengajarkan 12 anak-anak orang Islam sebagai kompensasinya.
Pada
Awalnya, pendidikan kuttab diselenggarakan di rumah-rumah guru-guru (mu’addib,
mu’allim), rumah-rumah para penghafal Al-Qur’an, beranda masjid atau pekarangan di sekitar masjid.
Darinya ulama-ulama besar fikih dan penghafal al-Qur’an..
Materi
mengenai al-Qur’an disampaikan di dalam kuttab baru terjadi kemudian, saat
jumlah umat Islam yang menguasai al-Qur’an sudah banyak, khususnya sesudah
dilakukan pengumpulan dan pembukuan al-Qur’an pada pemerintahan khalifah Utsman
bin ‘Affan.
Kuttab
saat itu belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah Islam. Namun
orang- seiring dengan meluasnya kekuasaan Islam orang Islam mempunyai semangat
yang tinggi agar anak-anak dapat mempelajari al-Qur’an. Mereka menganggap
mengajarkan al-Qur’an adalah suatu pekerjaan yang bernilai ibadah, terhormat,
dan mulia. sehingga orang berlomba-lomba mendirikannya. Keadaan ini menjadikan
kuttab semakin berkembang pesat.
Keunikan
kuttab adalah walaupun masih sangat sederhana dan tradisonal, namun memberikan
kontribusi yang besar bagi kaum muslimin sampai berdirinya pendidikan model
madrasah pada abad-abad selanjutnya. Pendidikan model kuttab ini awalnya
diselenggarkan di rumah-rumah para mu’alim atau muaddib. Sesudah Rasulullah saw
dan sahabat-sahabat mendirikan masjid, barulah terdapat kuttab yang didirikan
di samping masjid. Disamping itu ada pula kuttab yang didirikan secara terpisah
dari masjid.
Masa
pendidikan di Kuttab tidak ditentukan, tergantung kepada kondisi siswa. Siswa
yang rajin dan cerdas, akan lebih cepat menyelesaikan pelajarannya. Sebaliknya
anak yang malas, maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan
pelajarannya. Tidak ada sistem klasikal di dalamnya. Para murid umumnya duduk
berkeliling dan bersila (halaqah) menghadap ke arah guru.
Peralatan
belajar mereka terdiri dari pena, tinta,
papan kayu untuk menulis, dan Mushaf al-Qur’an. Sedangkan guru duduk di
atas kursi atau alas yang lebih tinggi dari alas murid-muridnya (halaqah).
Kuttab
sebagai lembaga pendidikan dasar Islam pertama akhirnya digantikan dengan
sistem baru ketika Nidzam al-Mulk (w.
1092 H/485 M) mendirikan madrasah Islam pertama di kota Baghdad pada tahun 1066
M. Madrasah Nidzamiyah didirikan memakai metode dan sistem yang lebih maju jika
dibandingkan kuttab. Di kemudian hari Madrasah Nidzamiyah menjadi model bagi
madrasah-madrasah Islam yang diselenggarakan di Mosul, Basrah, Marv, Isfahan,
Heart, Balkh, dan Nisabur.19 Institusi ini berperan sekali dalam penyebaran
faham sunni.20 Meskipun demikian lembaga pendidikan sebelumnya, seperti masjid,
kuttab, pendidikan tinggi dar al-hikmah, dar alilmu, bimaristan masih eksis
sebagai lembaga pendidikan di kota-kota muslim hingga menjelang era modern.
Kuttab
di Indonesia mulai dikenal sejak berdirinya Kuttab Al-Fatih Depok . pada tahun
2016-2017 Kuttab Al-Fatih sendiri kini sudah ada 17 cabang di beberapa kota di
Indonesia. Belum lagi masih ada Kuttab-Kuttab yang lain selain nama al-Fatih,
seperti Kuttab Padang, Kuttab Assakinah, Kuttab Imam Malik, dan Kuttab-Kuttab
lainnya.
C. Tujuan Kutab
Sejarah
permulaan pendidikan Islam mencatat bahwa kuttab terbagi ke dalam dua
karakteristik, yakni: Pertama, kuttab berfungsi sebagai institusi pendidikan
yang memusatkan perhatian kepada baca tulis, menghapal al-Qur’an, ilmu dasar
agama, dan berhitung dasar, dalam teori pendidikan modern, membaca (qiraah) dan
menulis (kitabah) merupakan teori kemampuan dasar pendidikan. Kuttab ini sering
juga disebut dengan kuttab awwal. Kedua, kuttab sebagai institusi pendidikan
yang mengajarkan ilmu bahasa dan adab, dasar-dasar ilmu-ilmu agama, hadits.
Jenis kuttab ini sering juga disebut kuttab qonuni.
D. Kurikulum Pendidikan Kutab
Phill
K. Hitti mengatakan bahwa, kurikulum pendidikan di Kuttab ini dipusatkan pada
al-Qur’an sebagai bacaan utama para siswa. Mereka juga diajari keterampilan
baca-tulis. Bersamaan dengan pelajaran baca-tulis, anak-anak itu juga
mempelajarai tata bahasa Arab, kisah-kisah para Nabi Muhammad – dasar-dasar
Aritmatika, dan mereka juga mempelajari puisi, dengan syarat tidak bersifat
erotis.
Menurut
Suwito pengajaran dikutab meliputi :
a. Membaca al-Qur’an dan menghafalnya
b. Pokok-pokok agama Islam
c. Manulis
d. Kisah (riwayat) orang-orang besar
e. Membaca dan menghafal syair-syair atau
natsar-natsar (prosa)
f. Berhitung, dan
g. Pokok-pokok ilmu nahwu dan ilmu sharaf
ala kadarnya
Dari
berbagai Sumber
Komentar
Posting Komentar